Video Terbaru
Showing posts with label Documentary. Show all posts
Showing posts with label Documentary. Show all posts

Pemkab Pidie Serius Kembangkan Sektor Perkebunan dan Pertanian



AV-Pidie: Kabupaten Pidie merupakan salah satu kabupaten yang memiliki area perkebunan dan pertanian yang sangat luas. Kedua bidang ini, menjadi sektor utama pendapatan warga. Dari tahun 2012, Pemerintah Kabupaten Pidie terus berbenah dalam melakukan serangkaian kegiatan untuk memajukan pertanian dan perkebunan di wilayah itu.

Salah satu produk tanaman unggulan yang sedang dikembangkan adalah tanaman kopi robusta. Pengembangan tanaman kopi itu dipusatkan di wilayah dataran tinggi Kecamatan Tangse dan Geumpang.

Di masa kejayaannya, kedua wilayah itu dikenal dengan daerah produksi kopi robusta terbaik. Kini, kejayaan itu ingin diulang kembali melalui pengembangan kopi robusta.

Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Pidie dan lembaga non pemerintah terus membantu warga di wilayah itu untuk mengembangkan tanaman kopi jenis ini. Diperkirakan luas areal lahan kopi mencapai ratusan hektar.

Melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Pemerintah Pidie terus memfasilitasi warga untuk membuka lahan kopi jenis kopi robusta. Dari pembersihan lahan, distribusi bibit hingga ke proses penanaman.

Diharapkan tiga tahun mendatang, selain Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, Pidie menjadi salah satu kabupaten penghasil kopi di Aceh. Harapan itu sangatlah beralasan, mengingat sejarah Kabupaten Pidie di era tahun 70-an, salah satu kabupaten penghasil kopi robusta. Apalagi kondisi kebun kopi robusta siap panen yang dimiliki warga tidak kalah bagus dengan wilayah lain.

Disamping itu, Pemerintah Kabupaten Pidie juga sedang mengembangkan tanaman palawija, seperti bawang merah. Awal tahun 2014, Pemerintah Kabupaten Pidie melalui kantor perwakilan Bank Indonesia, Aceh melakukan pengembangan budidaya bawang merah.

Dengan melakukan panen uji adaptasi terhadap enam varietas berlabel di Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Sakti. Dari enam varietas itu, hanya tiga yang cocok ditanam di wilayah Pidie, seperti varietas katumi, bima dan mentes yang dapat tumbuh dengan baik.

Ditargetkan, petani diwilayah Pidie setiap musim gadu (kemarau) dapat menanam bawang merah pengganti tanaman padi, dengan bibit bawang merah yang telah ditunjukkan oleh pemerintah setempat. (Ilham)

Para Pemburu Babi



AV-Aceh Utara:
Babi hutan adalah salah satu hama yang sering mengganggu tanaman padi dan kebun masyarakat di Kabupaten Aceh Utara. Karena itu, kebiasaan berburu babi beramai-ramai merupakan cara yang tepat menguranginya seperti yang dilakukan warga Desa Seuneubok, Kabupaten Aceh Utara.

Bila di banyak tempat, orang menggunakan senjata tajam atau senjata api. Tapi berburu babi di Aceh Utara hingga kini mengutamakan penggunaan tenaga anjing. Seorang pemburu bisa memiliki satu hingga dua ekor anjing, bahkan lebih.

Tombak sakti memang tim pemburu babi yang dibentuk secara turun temurun di Desa Seuneubok. Setiap ada permintaan perburuan, mereka akan dengan sigap menerima permintaan tersebut tanpa bayaran uang se-rupiah pun. (Munandar)

Mikro Hidro dI Kaki Hutan Ulu Masen



AV-Aceh Besar: Kecamatan Lhoong, Aceh Besar salah satu daerah pasca tsunami yang di terangi oleh listrik. Pada 2005 lalu, pembangikit listrik tenaga microhidro dibangun oleh coca-cola untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat. Bangunan kecil di kaki bukit hutan Ulu Masen ini menghasilkan 40 kilo what listrik setiap harinya. (Davi Abdullah)

Melirik Aceh Lewat Kuliner



AV-Banda Aceh: Tak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, Aceh juga memiliki kekayaan kuliner beragam yang patut anda coba. Intiplah Aceh dari sepenggal keragaman kulinernya.
(Davi Abdullah)

Getir Hidup Juru Parkir Cilik

 


AV-Banda Aceh: Saat matahari mulai terlihat di timur. Ketika anak-anak sebayanya mulai bergegas ke playgrup. Riki, (5 tahun) juga bergegas mandi tanpa sarapan pagi. Ia menimba sendiri air dari sumur sedalam lebih lima meter ini.

Berbeda dengan anak-anak lain, Riki membersihkan tubuhnya tanpa sabun. Namun air sumur itu membuatnya tetap riang. Sang ayah hanya membantu mengeringkan rambutnya.

Pagi yang cerah bersama keluarga, Ia meninggalkan rumah di Aso Nanggroe, Kecamatan Meuraxa menyusuri jalan tepi barat Banda Aceh menuju Jalan Muhammad Jam. Di sinilah ia menghabiskan harinya bersama kardus dan pluit.

Sejak lima bulan lalu, Riki sering merengek minta ikut bapaknya ke lokasi parkir. Riki sigap mengamati kenderaan yang berlalu-lalang dan menyediakan lapak untuk parkir.

Juru parkir cilik yang bercita-cita ingin menjadi polisi ini, tidak pernah berharap uang jajan dari rusman ayah barunya itu. Uang yang didapat dari warga yang menerima jasanya, Ia pakai untuk jajan. Sisanya diberikan keayahnya untuk cicilan sewa rumah.

Malampun tiba, saat anak-anak seusianya bercengkrama dengan keluarga, Riki masih di jalan. Malam itu hujan rintik membawa keluarga Riki pulang ke rumah.

Rumah Riki tak dialiri listrik. Hanya satu lampu teplok di gantung di pintu. Cahaya teplok tak mampu menerangi seluruh rumah. Bila anak-anak seusianya lelap tidur, Riki harus membantu ibunya meniduri sang adik bungsu.

Seakan mengerti derita kedua orang tua, Riki selalu menyimpan uang hasil parkir untuk membantu ayahnya agar mampu berlangganan listrik. Rumah yang didiami keluarga Riki merupakan rumah bantuan korban tsunami milik orang lain.

Pemilik rumah mengizinkan keluarga Riki menetap sementara waktu, sebagai penganti upah atas jasa ayahnya membersihkan ilang-ilang di perkarangan. Selebihnya, Rusman harus membayar sewa.

Getir hidup keluarga Riki memang ironi. Betapa tidak derita harus dijalani bocah yang seharusnya diayomi negara ini. Apalah arti duka keluarga Riki, bila pemerintah sedikit peduli.

Apalagi Aceh memiliki dana otonomi khusus yang berlimpah. Akankah nasib Riki berubah ? Minimal mampu bersekolah tahun depan.

Tahun 2013 dana otsus Aceh mencapai enam triliyun lebih naik menjadi delapan triliyun tahun ini. Undang-Undang Pemerintah Aceh memerintahkan besaran dana otsus dua persen dari alokasi umum (nasional) selama 15 tahun. (Maimun Saleh)

Pesona Wisata Aceh


AV-Banda Aceh: Ada sejumlah lokasi wisata yang harus dikunjungi jika anda berkunjung ke Aceh. Seperti halnya Pantai Lampuuk, Air Terjun Leupung, Pantai Iboh Sabang, Meseum Tsunami, Kapal PLTD Apung dan sejumlah tempat wisata menarik lainnya. (Davi Abdullah)

Pahlawan Penyu dari Bengkaru

 


AV-Singkil:
Maraknya pencurian telur penyu membuat satwa langka ini di ambang kepunahan. Disinyalir banyak pihak yang terlibat dalam pemburuan telur penyu. Bahkan ada informasi keteribatan beberapa oknum TNI, Polisi serta pemerintah. Terbukti hampir setiap tamu yang datang ke Pulau Banyak, Aceh Singkil disungguhi telur penyu bahkan ada yang di jadikan oleh-oleh untuk di bawa pulang.

Sejak tahun 1973 hingga sekarang Muhammad Tachsis sudah melakukan pelestarian penyu di pulau Bengkaru, Aceh Singkil. Banyak tantangan yang di hadapi. Pada tahun 1996, Tachsis bersama Hammud Bengkaru mendirikan Yayasan Pulau Banyak (YPB) untuk menjaga penyu di Pulau Bengkaru.

Sekretariat YPB berada di Pulau Balai. Dari Pulau Balai ini kita menuju Pulau Bengkaru harus mempergunakan boat menempuh jarak 2 jam dengan melewati beberapa pulau kecil seperti Pulau Tuanku, Asok, Ujong Silingan serta beberapa gugusan pulau lainnya.(Aqif Abrar/ Taufik Mellow)

Nandong Semangat Nelayan Simeulue (Part 2)




Film Dokumenter ini menceritakan kesenian Nandong yang merupakan pantun yang telah di wariskan dari leluhur masyarakat di Pulau Simeulue. Alunan syair Nandong selain menceritakan sejarah, syair --syair Nandong juga menceritakan semangat masyarakat Simeulue dalam menjalani hidup dan percintaan. Selamat menyaksikan....!!! (TIM DOKUMENTER)

Nandong Semangat Nelayan Simeulue (Part 1)



Film Dokumenter
ini menceritakan kesenian Nandong yang merupakan pantun yang telah di wariskan dari leluhur masyarakat di Pulau Simeulue. Alunan syair Nandong selain menceritakan sejarah, syair –syair Nandong juga menceritakan semangat masyarakat Simeulue dalam menjalani hidup dan percintaan. Selamat menyaksikan....!!! (TIM DOKUMENTER)

Pacuan Kuda Tradisional ala Gayo



AV – Takengon: Warga di dataran tinggi Gayo, Aceh, kerap menggelar pacuan kuda dengan joki anak-anak yang tanpa mengenakan pelana. Perhelatan rakyat yang telah berlangsung selama puluhan tahun ini selalu mendapat perhatian warga.

Bukan saja masyarakat di dataran tinggi Gayo, warga luar daerah pun menyempatkan diri ke arena balapan ini.

Kuda dan joki cilik adalah dua sosok yang tak bisa dipisahkan. Para joki yang rata-rata berusia belasan tahun itu seakan begitu menyatu dengan kuda-kuda kesayangan yang dikendalikan di arena. Dalam lomba kali ini keluar sebagai pemenang ialah joki Junaidi, yang telah menekuni pacuan kuda sejak berumur tujuh tahun.

Berlomba tanpa pelana tidaklah mudah. Tak jarang, joki terjatuh hingga menderita luka-luka. Namun, musibah ini tak menyurutkan tekad mereka untuk terus menjadi joki untuk melestarikan budaya pacuan kuda.

Ternyata keberadaan pacuan kuda di daratan tinggi Gayo tak lepas dari peran pemerintahan Hindia Belanda. Awalnya acara ini diadakan untuk memperingati hari ulang tahun Ratu belanda Willhelmina pada tahun 1926 dan terus diadakan setiap tahunnya oleh Belanda.

Namun setelah merdeka, momentum pacuan kuda kemudian beralih menjadi pesta rakyat sebagai bentuk suka cita rakyat Gayo atas kemerdekaan Republik Indonesia.

Kuda-kuda yang sehari-hari digunakan sebagai pembajak sawah kali ini turun kelapangan. Ditunggangi Joki yang biasanya anak-anak berumur 8 sampai dengan 15 tahun, tanpa menggunakan pelana dengan pemukul kuda yang terbuat dari rotan. Dahulu sekali perlombaan ini dibagi menjadi tiga kategori, mulai dari Kuda Muda untuk usia 5 tahun ke bawah, Kuda Dewasa umur 5 sampai 7 tahun dan Kuda Tua 8 sampai 10 tahun.

Dulunya pacuan kuda dilakukan dalam wilayah desa tanpa jalur pacu yang jelas, seiring dengan berkembangnya daerah kemudian beralih ke lapangan Musara Alun di Belang Kolak II hingga akhirnya pada tahun 2006 dipindahkan ke lapangan Belang Bebangka di Kayu Kul hingga sekarang masih diselenggarakan ditempat ini. 

Perhelatan ini rata-rata berlangsung selama seminggu, awalnya diadakan hanya satu tahun namun semenjak tahun 2011 event yang menjadi pekan rakyat ini menjadi dua kali setahun.

Pesta Budaya ini bukan hanya sangat diminati masyarakat gayo sampai saat ini, melainkan juga mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia dan kabar keberadaannya sudah meluas ke Manca Negara.

Sayangnya, saat ini keberadaan Kuda lokal semakin tersingkir dengan datangnya kuda luar dengan postur lebih besar yang mencuri minat para pecinta kuda Gayo. Hal yang paling dikhawatirkan oleh para pemilik dan penikmat kuda lokal adalah, pada masa yang akan datang kuda lokal tidak lagi mampu bersaing atau bahkan tidak ikut berpacu dalam turnamen lagi. Bahkan sangat mungkin punah oleh perkembangan zaman karena tidak diminati lagi.

Dalam perkembangannya, event ini terus dibenahi mulai dari peraturan, kategori, lapangan dan kelengkapan lainnya. Pacuan kuda ini tidak hanya diadakan di Kabupaten Aceh Tengah, tapi juga di Kabupaten Bener Meriah dan juga Kabupaten Gayo Lues.

Para pemilik dan perawat kuda yang sempat kami temui berharap semoga tradisi ini dapat terus dijaga dan dilestarikan keberadaannya di dataran tinggi Gayo. Dengan perbaikan dan perkembangan yang tidak menggeser nilai-nilai tradisi perayaan tersebut. (RED/DBS)

Laut Tawar Surga Ikan Depik



AV - Aceh Tengah: Danau laut tawar di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah selain kawasan wisata yang menghadirkan keindahan alam ternyata juga memberikan rezeki bagi sebagian nelayan disekitarnya.Orang Gayo menyebut danau ini dengan sebutan lut tawar. Nah, di danau ini terdapat spesies ikan depik yang tidak ditemukan di belahan bumi lainnya.Bagaimana aktifitas para pencari ikan depik di pinggiran danau laut tawar?

Udara dingin dipagi hari di danau laut tawar Aceh Tengah tak menyurutkan langkah para nelayan ikan depik untuk mengayuh perahu mereka ke tengah danau. Nelayan-nelayan ikan depik ini setiap pagi keluar dari rumahnya di waktu subuh saat sebagian orang masih terlelap dalam tidurnya.

Mereka keluar dari rumah dengan tujuan untuk mengambil jaring yang biasanya diletakkan di tengah danau laut tawar di waktu sore. Sebagian dari mereka bahkan meletakkan jaring di malam hari dan menunggunya di tengah danau yang dingin hingga matahari terbit di ufuk timur.

Perjuangan para nelayan depik melawan dingin ini tak sia-sia. Setiap paginya mereka bisa membawa hasil tangkapan mereka minimal 1 kilo ikan depik. Namun terkadang mereka juga tak mendapat apapun meskipun telah membentangkan jaring mereka di tengah danau yang memiliki luas 5 hektar lebih tersebut. Begitulah aktifitas para petani ikan depik yang berada di desa toweren Aceh Tengah.

Para nelayan ikan depik ini adalah nelayan tradisional yang hanya bermodal jaring. Sebuah sampan dan sebuah lampu penerang saat mereka berada di tengah danau di malam hari untuk melawan dingin mereka sebagian besar menutupi tubuh mereka denganjeket yang dibalut dengan plastik agar air tak menembus tubuh mereka.

Usai mengangkat jaring di tengah danau, para nelayan akan mengayuh sampan mereka ke pinggiran danau dan melepaskan ikan-ikan depik dari jaring mereka di pinggiran danau telah menunggu para agen penampung yang siap memasarkan ikan yang langka tersebut. Harga ikan depik berkisar antara 40 hingga 100 ribu perkilogramnya. Harga tersebut sesuai dengan musim dan banyak tidaknya ikan depik di pasaran. (DA)

Banda Aceh Coffee Festival

Ini dia Lokasi Penangkaran Orangutan di Aceh Besar

(Short Movie) Back to Basic

(Short Movie) Ada Pocong

Lentera Mimpi Anak-anak Aceh

Mahasiswa Unida KKM di Peukan Bada

Politika Metro TV 29 April 2013 - Bendera Aceh atau Bendera GAM? 3

Politika Metro TV 29 April 2013 - Bendera Aceh atau Bendera GAM? 2

Politika Metro TV 29 April 2013 - Bendera Aceh atau Bendera GAM? 1

 
About Us | Redaksi | Pedoman Media Siber
. Support: Acehadvertising.com
Copyright © 2013. Aceh Video - All Rights Reserved